gallery/img-20160628-wa0005

Baitul Maal Insan Mandiri menggelar buka puasa bersama dengan ratusan anak yatim piatu di Rumah Makan (RM) Jamboel, Gemolong Sragen.


Kegiatan sosial yang sudah berlangsung selama 4 kali ini, mengundang 1.20 anak yatim piatu dari  beberapa kecamatan yang ada di Sragen.

gallery/org tua sholihah

Pernyataan Rasulullah di atas cukup gamblang bahwa orang tua itu sangat menentukan merah - hijaunya anak-anak. Orang tua yang tidak punya perhatian terhadap agama anaknya kemungkinan besar anak-anak akan apatis dalam beragama.
Ibnu Qoyim berkata, 
" wa aktsarul auladi fasaduhum ihmaluhum abahum an dinihim" 

Oleh Dr. Nur Salim

MENJADIKAN GEMOLONG KOTA PELAJAR

Di koran solopos dikabarkan, bahwa pemerintah kabupaten Sragen akan menjadikan Gemolong menjadi kota Sragen kedua. Bukan hanya Gemolong tapi juga melebar ke Kalijambe dan Plupuh.

 

Tiga sektor yang akan dikembangkan adalah industri, pariwisata dan pendidikan. Tulisan berikut mencoba menganalisa untung rugi rencana tersebut.


Deng xio ping, pemimpin China tahun 70 an punya jargon "Tidak penting kucing itu berwarna hitam atau putih, kucing yang pintar menangkap tikus itulah yang kita butuhkan". Pernyataan ini merupakan ideologi baru negara tirai bambu tersebut. Secara politik ideologinya komunis tetapi secara ekonomi menganut kapitalisme. Sentralistik dalam berpolitik tapi liberal dalam berekonomi.


Apa kaitannya pengembangan Gemolong dengan ideologi China?


Keberpihakan pemerintah dalam mengalokasikan anggaran pembangunan sangat terkait dengan "kucing hitam n kucing putih" tersebut. 


Pragmatisme agar investor datang dan menyerap tenaga kerja yang massif menjadi godaan setiap pemimpin daerah. Maka langkah industrialisasi menjadi pilihan praktis. Tak perlu keluar anggaran yang banyak karena swasta akan hadir membawa uang. Menyediakan lapangan kerja. Cukup dengan memberi izin masalah pengangguran teratasi dan pajak serta retribusipun mengalir.


Praktis memang. Tetapi khusus untuk wilayah Gemolong kayaknya perlu cermat dan hati-hati. Berikut pertimbangan yang perlu dipikirkan.


1. Industrialisasi identik dengan  pencemaran lingkungan.

  Orang  yang tinggal di pinggiran bengawan solo tahu betul. Bagaimana sungai yang diabadikan Gesang itu sangat tercemar akibat limbah industri. Ini yang dibawa jauh lewat sungai. Mereka yang rumahnya dekat dengan pabrik lebih sengsara lagi, suara mesin yang bergemuruh dan air sumur yang tak lagi layak dikonsumsi. 


Apa kesengsaraan seperti ini akan diulang di wilayah Gemolong?
Bukan berarti anti investasi, tapi mencari bentuk investasi yang ramah lingkungan, ramah sosial dan sesuai dengan kapasitas masyarakat saya kira perlu dipikirkan.


2. Lapangan Golf tidak berpihak ekonomi kerakyatan.
  Rencana pembangunan lapangan golf di wilayah Sangiran kayaknya juga perlu dipertimbangkan ulang. Sebab jenis olahraga ini sangat elitis dan tidak pro rakyat. Kalaupun menyerap tenaga kerja tidak seberapa. Bahkan jika yang membuat swasta sekalipun berarti juga mengurangi sawah dan ladang yang mestinya dapat dipakai untuk produk pertanian.


Sangiran yang merupakan wilayah kalijambe lebih tepat apabila dipersiapkan bahan baku pembuatan mebel, sebab daerah tersebut menjadi sentra produksi mebel.


3. Museum Sangiran itu sesat.
  Teori ilmiah itu datang dan pergi, suatu teori awalnya dinilai benar ketika ditemukan hal yang baru maka yang mulanya dinilai benar menjadi salah.
Begitulah yang menjadi dasar dari museum purbakala Sangiran. Ia mendasarkan teori evolusi  Darwin menjadi pijakan. Saat ini teori tersebut dinilai benar oleh sebagian ilmuwan (ateis). 


Yang paling nampak dari museum Sangiran adalah teori bahwa manusia itu berasal dari monyet. Keyakinan ini terekam secara kasat mata karena divisualisasi dengan diorama. 


Orang yang berkunjung akan melihat proses terbentuknya manusia. Diawali dengan monyet yang merangkak, terus berubah agak bungkuk, lalu agak tegak. kemudian tegak dan akhirnya menjadi monyet yang berjalan tegak. Itulah manusia.
Penggambaran ini bukan hanya pada diorama tetapi juga seragam batik PNS kabupaten Sragen.


Ini adalah teori sesat meskipun oleh Unesco diakui benar.
Sebagai orang Islam saya lebih percaya dengan sabda Nabi, :" Kullukum min Adam wa Adam min turob, ( kamu semua berasal sari Adam dan Adam berasal sari Tanah).
Apa kesesatan pemikiran seperti itu yang akan kita jual kepada wisatawan.?


Apa solusi untuk Gemolong?


1. Kampus UNS
  Rencana membujuk UNS agar membangun kampus di wilayah Sragen sangat tepat. Tapi akan lebih tepat apabila diarahkan ke Gemolong. Daerah ini sudah terkenal sebagai tempat pendidikan. Maka apabila berdiri kampus UNS tentu akan semakin menguatkan icon kota pendidikan.


Di kecamatan Gemolong ada empat desa yang sudah berubah menjadi kalurahan. ( gemolong, kwaNgen, ngembat dan krikilan). Ini artinya tanah kas desa yang puluhan hektar menjadi milik pemerintah daerah.


Kalau pemda bersedia menghibahkan sebagian ke UNS tentu kemungkinan besar mereka akan menyambut positip, apalagi rektornya, Prof. Karsidi berasal dari Sumberlawang.
Dengan dibangunnya kampus UNS di Gemolong dipastikan akan menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar. Penyediaan kos kosan, kuliner, alat tulis dan perlengkapan pelajar yang lain.


2. "Menghidupkan" kembali SBBS
  Gemolong pernah memiliki sekolah hebat. Orang sering menyebut SBI (Sekolah Bertaraf Internasional). Dari SD sampai SMA, tapi sayang sekolah ini mati suri akibat kebijakan politik yang tak mendukung. Sejumlah guru yang berasal dari Turki tak ada lagi. Padahal guru-guru dari luar negeri itulah salah satu kunci kemajuannya.


Yang lebih memprihatinkan konon sekarang kiblatnya tidak lagi Turki tapi Australia. 


Jelas berbeda "wordview" keduanya sehingga keluarannya juga lain. Turki secara budaya masih ada kesamaan dengan Indonesia. Dalam aspek keislaman minimal. Maka bisa kita lihat saat masih "bersama"  Turki setiap Idul Adha mereka menyembelih ratusan sapi qurban dan dibagi ke daerah2 miskin di sekitar gemolong. Demikian pula setiap ramadhan menyebar ribuan paket iftar. Untuk kaum muslim.  Hal seperti ini tak mungkin terjadi saat.kiblatnya ke negeri Kanguru.


Karena itu, untuk menambah kesemarakan Gemolong sebagai kota pelajar sangat baik bila pemda kembali "Menghidupkan" sekolah ini.


3. Flay over perempatan Gemolong
 Kemacetan di kota ini sudah seperti kota besar, terutama perempatan . Untuk itu pembangunan flay over rasanya perlu dipertimbangkan. Sehingga arus lalu lintas dari berbagai arah semakin lancar. Ini lebih praktis daripada membuat jalur lingkar.
Demikian urun rembuk untuk pengembangan kota Sragen 2 semoga bermanfaat. (Nursalim68@gmail.com)

 

Baca Juga
gallery/gemolong edupark

Taman EduPark Gemolong